Ku jalani waktu tanpamu
Oleh : Yoga Nurdianto
Telah sekian lama aku menanti tama menjadi milikku seutuhnya. Akhirnya, cerita cintaku saat ini sudah happy ending, tingal sekarang aku dan tama yang menjalaninya. Dulu kami sering sekali bertengkar, hanya karena hal-hal kecil, kadang kami sampai rebut tidak menentu. Dulu sebagai teman, kami memang bukan teman yang akrab, kami hanya sekedar saling menyapa dan kami hanya sekedar tahu nama saja. Tapi sekarang, benar kata orang-orang, kalau kamu belum mengenal orang maka kamu tak akan bisa mencintai atau dicintai orang tersebut, dan hasilnya sekarang perasaan itu menjadi kebalikan bagi aku dan Tama, justru kami sekarang saling mencintai dan menyayangi. Tapi yang jelas, aku juga tidak mau kehilangan tama, aku juga takut kalau aku terlalu mencintai dan menyayangi dia, bisa jadi aku dan dia akan terpisahkan.
Suatu hari Tama menelepon aku
“Hallo Vik, kamu lagi ngapain? aku kangen deh sama kamu..”
“Tama, kan baru kemarin kita ketemu, kamu gimana sih?”
“Vika, kamu baik-baik ya di sana, jaga diri kamu dan jangan pernah lupakan aku ya sayang.”
“Kamu ngomong apa sih Tama? Kamu ngigau ya?”
“Nggak, maksud aku yah kamu jangan macam-macam di sana, kan di kampus kamu banyak banget tuh cowok-cowok keren, ntar ada yang godain kamu lagi, trus kamu lupain aku.”
“Ha-ha.....ha-ha.... ya nggak dong sayang, aku nggak akan tergoda sama cowok-cowok di kampus ini, nggak ada yang kayak kamu di sini, dan yang aku mau tuh cuma kamu seorang.”
“Hei, kamu udah pintar ngegombal yah, siapa yang ajarin, ayo ngaku?”
“Tama, kamu apaan sih?! Udah deh, aku mau kamu kasih aku kepercayaan untuk berteman dengan teman-temanku. Asal kamu tau aku berterima kasih sama Tuhan karena selama ini aku udah bisa memiliki kamu.”
“Iya Vika, dan asal kamu tau juga cintaku lebih besar dari yang pernah kamu bayangkan selama ini.”
“Tama, kan baru kemarin kita ketemu, kamu gimana sih?”
“Vika, kamu baik-baik ya di sana, jaga diri kamu dan jangan pernah lupakan aku ya sayang.”
“Kamu ngomong apa sih Tama? Kamu ngigau ya?”
“Nggak, maksud aku yah kamu jangan macam-macam di sana, kan di kampus kamu banyak banget tuh cowok-cowok keren, ntar ada yang godain kamu lagi, trus kamu lupain aku.”
“Ha-ha.....ha-ha.... ya nggak dong sayang, aku nggak akan tergoda sama cowok-cowok di kampus ini, nggak ada yang kayak kamu di sini, dan yang aku mau tuh cuma kamu seorang.”
“Hei, kamu udah pintar ngegombal yah, siapa yang ajarin, ayo ngaku?”
“Tama, kamu apaan sih?! Udah deh, aku mau kamu kasih aku kepercayaan untuk berteman dengan teman-temanku. Asal kamu tau aku berterima kasih sama Tuhan karena selama ini aku udah bisa memiliki kamu.”
“Iya Vika, dan asal kamu tau juga cintaku lebih besar dari yang pernah kamu bayangkan selama ini.”
Satu hal inilah yang selalu ditakutkan Tama, dia selalu bilang aku akan tergoda oleh cowok-cowok di kampus, sementara aku nggak begitu? Justru akulah yang paling takut Tama yang akan berpaling dariku, dia akan pergi meninggalkanku selamanya, dan cintanya hilang untukku. Tama sekarang kerja di salah satu perusahaan asing terkemuka di kota ini, sebagai cewek kalau kita melihatnya dengan kesan pertama, dia adalah cowok yang diimpi-impikan semua cewek, karena Tama punya segalanya, dengan modal wajah yang tampan, prilaku yang baik, kerja yang mapan, aku pun takut dia akan pergi dariku, kalau seandainya ada cewek yang lebih menarik dariku, lebih sederajat dengan dia.
Keesokan harinya Aku dan Tama pergi ke toko buku. Tama menggenggam tanganku erat sekali, aku merasakan kenyamanan saat dia memegang tanganku. Aku merasakan cintanya begitu kuat untukku. Saat kami masuk ke sebuah toko buku, Tama bilang dia akan membelikan aku sebuah buku novel yang dulu sudah pernah dibacanya dan sekarang dia ingin aku juga membaca buku itu. Setelah Tama membayar buku tersebut, Tama langsung menyerahkannya padaku. Aku kaget membaca sinopsisnya, ternyata buku itu berisi tentang kekuatan cinta yang tulus, yang akhirnya terpisahkan oleh maut, dan bagaimana sakitnya hati seorang kekasih saat menghadapi peristiwa kematian itu.
“Tama, kenapa kamu kasih aku buku kayak gini?”
“Vika, aku pengen banget kamu baca buku ini, karena kalau kamu baca buku ini, kamu bakal lebih mengerti lagi apa itu cinta sejati, kamu akan merasakan betapa sangat berartinya orang yang mencintai kamu, pokoknya ceritanya bagus deh, kamu pasti nggak bakalan nyesal kalau baca buku ini, dan setelah membacanya, aku juga yakin kamu akan semakin sayang sama aku, hehe... hehe ...”
“Ih, kamu!! Ke-GR-an banget sih kamu, masa cuma gara-gara baca buku ini aku bisa semakin sayang sama kamu.”
“Eh, beneran, percaya deh sama aku. Kalau nggak, ntar kamu boleh musuhin aku deh.”
“Tama!! Kamu ngomong apaan sih, ya sudah, aku baca bukunya, kamu kira aku bakalan senang yah kalau kita musuhan lagi.”
“Vika, aku pengen banget kamu baca buku ini, karena kalau kamu baca buku ini, kamu bakal lebih mengerti lagi apa itu cinta sejati, kamu akan merasakan betapa sangat berartinya orang yang mencintai kamu, pokoknya ceritanya bagus deh, kamu pasti nggak bakalan nyesal kalau baca buku ini, dan setelah membacanya, aku juga yakin kamu akan semakin sayang sama aku, hehe... hehe ...”
“Ih, kamu!! Ke-GR-an banget sih kamu, masa cuma gara-gara baca buku ini aku bisa semakin sayang sama kamu.”
“Eh, beneran, percaya deh sama aku. Kalau nggak, ntar kamu boleh musuhin aku deh.”
“Tama!! Kamu ngomong apaan sih, ya sudah, aku baca bukunya, kamu kira aku bakalan senang yah kalau kita musuhan lagi.”
Tama aneh sekali hari ini. Tadi siang dia ngomong yang nggak-nggak di telepon, dan malam ini dia juga menyuruhku membaca buku yang isinya aneh, tentang kematian, lalu aku dimintanya untuk menukar helm fullface miliknya dengan helm halfface milikku. Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang, kata kematian terasa terngiang-ngiang di telingaku. Entah kenapa aku semakin ketakutan, takut akan kematian, takut akan kehilangan. Peganganku semakin aku kuatkan ke pinggang Tama, aku peluk pungungnya dan aku sandarkan wajahku ke sana. Aku merasakan lagi kalau aku bersama Tama, saat ini mungkin Tama sedang tersenyum karena dia merasakan cintaku besar untuknya.
Sambil mengenderai motornya, sesekali dia menoleh ke belakang untuk melihatku, Tama seperti orang yang was-was. Aneh, di sepanjang jalan aku terus kepikiran. Dan akhirnya bunyi keras dan goncangan hebat membuat aku kaget, tidak hanya goncangan, tapi sakit yang luar biasa terasa di kepalaku, aku merasakan pusing serasa dunia ini berputar sangat kencang, penglihatanku kabur, aku berusaha untuk menyadarkan diriku sendiri, apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba aku melihat Tama yang sedang tidur di jalanan, samar-samar aku melihat dia seolah-olah tidur nyenyak, aku merasa mimpi, mana mungkin Tama tidur di jalan, perasaan baru tadi aku boncengan dengan dia. Aku berjalan mendekati dia, tapi orang-orang yang ramai lebih dulu menghampiri dia, aku semakin kesakitan, aku tidak kuat lagi menahannya, dan akhirnya yang aku lihat hanya kegelapan.
“Vika, kamu nggak apa-apa saying????, ini Mama.”
Aku pandangi wajah Mama. Dia seperti orang yang ketakutan, aku melihat sekelilingku, tiba-tiba aku baru sadar, selintas kejadian tadi malam teringat lagi olehku.
“Ma, Tama mana? Dia baik-baik saja kan?”
“Vika, nanti saja, kamu istirahat dulu, kamu masih sakit sayang.”
“Nggak Ma, Vika nggak merasa sakit apa-apa, sekarang Vika mau lihat Tama, dimana dia Ma?”
“Vika, luka kamu belum kering betul, tadi kamu terus-terusan mengigau kalau kamu ngerasain sakit.”
“Ma, Vika nggak ngerasa sakit, benaran!!, nggak tau kenapa Vika ngerasa sehat dan kuat Ma, sekarang pokoknya Vika mau ketemu Tama pasti saat ini dia butuhin Vika banget.”
“Vika, saat ini Tama nggak butuh siapa-siapa lagi, dia udah aman Vika, dia udah tenang di sana, sekarang udah bahagia dengan kehidupannya sendiri, ada yang menjaga dia di sana.”
“Apa? Apa Ma, maksud Mama? Mama bohong!! Vika nggak percaya, nggak mungkin, nggak mungkin itu terjadi sama Tama, dia udah janji Ma nggak akan pernah ninggalin Vika, dia sayang Vika, Vika sayang Tama Ma .... nggak, nggak mungkin....!”
Teriakanku membuat semua suster datang ke tempatku, mereka berusaha menenangkanku, tapi aku tidak bias tenang, air mataku terus mengalir tiada hentinya, salah seorang suster baru saja akan memberiku suntikan penenang, tapi cepat-cepat aku elakkan.
“Tolong jangan suster, saat ini aku nggak butuh itu, aku hanya ingin menangis, aku nggak rela, aku marah sama Tama, kenapa dia berani pergi ninggalin aku, padahal dulu dia udah janji nggak akan pernah pergi dariku, tapi kenapa Tama bohong, kenapa sekarang justru dia pergi selamanya, dan aku tau dia nggak akan pernah kembali lagi kan untukku? Kenapa kamu tinggalin aku Tama?”
“Tolong jangan suster, saat ini aku nggak butuh itu, aku hanya ingin menangis, aku nggak rela, aku marah sama Tama, kenapa dia berani pergi ninggalin aku, padahal dulu dia udah janji nggak akan pernah pergi dariku, tapi kenapa Tama bohong, kenapa sekarang justru dia pergi selamanya, dan aku tau dia nggak akan pernah kembali lagi kan untukku? Kenapa kamu tinggalin aku Tama?”
“Vika, ini udah takdirnya, waktu Tama udah habis di dunia, kamu jangan pernah marah sama Tama sayang. Kamu harus yakin kalau sekarang Tama udah bahagia di sana.”
“Ma, kenapa justru Tama, kenapa buka aku aja yang ada di sana? Vika mau kok Ma, menggantikan Tama, karena Vika sayang sama Tama Ma, atau biarkan Vika untuk bersama dia sekarang, Vika pengen menyusul dia Ma, Vika nggak mau hidup di dunia ini tanpa dia, percuma Ma, percuma kalau tidak ada Tama di sini, hidup Vika nggak ada artinya.”
Dengan cepat suster-suster itu memegang seluruh tubuhku, dan sesaat kemudian aku tertidur, di alam mimpi Tama datang padaku. Dengan pakaian yang serba putih Tama tersenyum padaku, dia berjalan mendekatiku, dia kelihatan senang sekali, seolah-olah dia mendapatkan kebahagiaan yang baru, yang tiada duanya di dunia, melihat Tama tersenyum terus-menerus, rasanya aku ingin sekali ikut bersama dia, ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. Aku berusaha memeluknya dan menggenggam tangannya, dia membalas pelukanku, dia mendekapku, kembali aku merasakan kenyamanan bersamanya, aku merasakan dia memberiku kekuatan, ketegaran, dia membelai rambutku dengan penuh rasa sayang, tapi dengan berlahan dia melepaskanku, dia justru menjauh dariku, semakin jauh, jauh dan hilang dari penglihatanku.
Saat aku sadar, aku menangis lagi, aku bukan menangis karena menahan sakit pada kepalaku, tapi aku menangis karena hatiku yang terasa amat sakit. Sekarang dunia bagiku terasa kelam, hujan tidak hanya membasahi bumi, tapi hujan membasahi kehidupanku, hatiku seolah-olah tidak berhenti menangis, menangisi orang yang telah pergi untuk selama-lamanya, tidak akan pernah kembali lagi.
Tiba-tiba mataku tertuju pada buku yang ada di atas meja, aku baru ingat kalau itu adalah buku yang dibelikan Tama kemarin. Aku buka satu demi satu halaman buku itu, beberapa menit kemudian aku tenggelam dalam ceritanya. Aku menangis membaca buku itu, sekilas aku seolah-olah melihat wajah Tama tersenyum di langit yang mendung di luar sana.
Entah kenapa sekarang aku kembali merasakan kekuatan itu, kekuatan cinta yang diberikan oleh Tama, aku merasakan dia ada di dekatku, merangkulku, menenangkanku, aku dapat merasakan cinta dan sayangnya. Tama, aku sangat mencintai dan menyayangimu, aku yakin kamu bahagia di sana. Walaupun kamu sudah pergi dari kehidupanku, tapi kamu tidak akan pernah pergi dari hatiku, kamu abadi untukku, Tama. Aku akan buktikan, kematianmu tidak akan pernah mengakhiri cintaku.




























